Dari Banjir ke Krisis Air di Kuranji-Pauh, Kenapa Padang Harus Beralih ke Tata Air Berbasis Lanskap
Ringkasan
Rangkaian banjir akhir 2025 disusul krisis air 2026 memperlihatkan gangguan siklus air kota. Padang perlu keluar dari pola respons darurat menuju tata air berbasis lanskap yang menjaga resapan, aliran dasar, dan akses air warga sepanjang musim.
Padang mengalami pelajaran mahal dalam waktu singkat: hujan ekstrem memicu banjir bandang, lalu beberapa pekan sesudahnya warga menghadapi krisis air bersih. Ini bukan kontradiksi, melainkan tanda bahwa siklus hidrologi kota terganggu. Ketika aliran sungai bergeser, irigasi terputus, sedimen menutup saluran, dan cadangan air tanah turun, kota bisa beralih dari “kelebihan air” ke “kekurangan air” dalam satu musim yang sama.
Data resmi pemerintah menunjukkan skala masalahnya besar. Pada Januari 2026, Pemko Padang mencatat 121 titik kekeringan, dengan dampak terparah di Kecamatan Kuranji, dan sekitar 80 persen warga terdampak di area itu tidak terjangkau layanan PDAM. Pada saat yang sama, pemerintah menjalankan suplai darurat air tangki di titik-titik terdampak, sambil mendorong sumur bor komunal sebagai solusi transisi.
Intervensi teknis juga diarahkan ke pemulihan sistem irigasi Gunung Nago. Dinas PUPR Padang menyebut kolaborasi lintas instansi dilakukan untuk mengalirkan kembali air, termasuk dukungan pompa dengan kapasitas total 500 liter per detik di saluran kanan dan pembersihan sedimen di saluran kiri. Dari sisi pemerintah pusat, Kementerian PU menurunkan 5 armada tangki dan 30 hidran umum untuk menjaga pasokan sementara proses pemulihan berlangsung.
Namun, kalau Padang ingin keluar dari siklus “darurat ke darurat”, kota perlu melampaui pendekatan reaktif. Tata air berbasis lanskap harus jadi arus utama: perlindungan kawasan resapan di hulu, kontrol limpasan di kawasan terbangun, restorasi koridor sungai-irigasi, dan pengelolaan air tanah berbasis daya dukung. Program tanam pohon di hulu penting, tapi harus disambungkan dengan kontrol tata guna lahan dan audit hidrologi berkala agar dampaknya terukur.
Ukuran keberhasilan lima tahun ke depan harus jelas: titik kekeringan menurun, ketergantungan darurat air tangki berkurang, stabilitas sumur warga membaik, dan layanan air publik lebih tahan terhadap guncangan cuaca ekstrem. Kalau indikator ini bergerak, berarti Padang bukan hanya pulih dari bencana, tapi naik kelas menjadi kota yang belajar dan beradaptasi.
Referensi
- Pemko Padang, “Lawan Krisis Hidrometeorologi, Kota Padang Mulai Gerakan Tanam Sejuta Pohon” (22 Jan 2026).
- Pemko Padang, “Atasi Kekeringan, Pemko Padang Jalin Kolaborasi untuk Pulihkan Irigasi Gunung Nago” (26 Jan 2026).
- Kementerian PU, “Dampak Perpindahan Alur Sungai Batang Kuranji... Tangani Krisis Air Bersih” (26 Jan 2026).
- Pemko Padang, “Atasi Krisis Air, Pemko Padang Minta Menteri PUPR Bangun 200 Sumur Bor dan SPAM Baru” (30 Jan 2026).