Kurao Pagang-Maransi: Jalan Dibenahi, Drainase Ditingkatkan, Tapi Apakah Risiko Kotanya Ikut Turun?
Ringkasan
Koridor Kurao Pagang-Maransi adalah nadi harian menuju Balai Kota Aie Pacah. Tantangan Padang bukan hanya membangun jalan dan drainase, tetapi memastikan dua intervensi itu terintegrasi dengan sistem sungai dan manajemen risiko banjir kota.
Koridor Kurao Pagang-Maransi bukan ruas biasa. Ia menghubungkan kawasan permukiman ke pusat pemerintahan Aie Pacah, dipakai komuter harian, dan jadi jalur alternatif yang sudah dilalui Trans Padang. Karena itu, keputusan Pemko menargetkan perbaikan jalan dan drainase di koridor ini tuntas pada 2026 adalah langkah strategis, bukan proyek kosmetik.
Tapi ada pertanyaan yang lebih penting dari sekadar progres fisik: apakah pembenahan koridor ini menurunkan risiko sistemik kota? Pengalaman bencana 2025 memberi peringatan tegas. Saat jaringan sungai, irigasi, jalan, dan layanan air tidak sinkron, dampaknya melonjak ke mana-mana. Data resmi Pemko menunjukkan kerugian infrastruktur mencapai Rp264,3 miliar, dengan komponen besar pada jalan, jembatan, bendungan, sungai, dan intake air minum. Ini berarti kualitas integrasi antarinfrastruktur jauh lebih menentukan ketahanan kota dibanding keberhasilan satu paket proyek tunggal.
Dalam konteks Kurao Pagang-Maransi, desain drainase seharusnya tidak dipisahkan dari kapasitas sungai penerima dan perubahan tata guna lahan di hulunya. Kalau saluran kawasan dipercepat tapi kapasitas hilir tidak siap, banjir hanya dipindahkan. Kalau pelebaran jalan menambah permukaan kedap air tanpa kompensasi tampungan, limpasan puncak akan naik dan beban saluran bertambah. Di titik ini, perencanaan berbasis koridor harus naik kelas menjadi perencanaan berbasis sistem hidrologi.
Secara kebijakan, ada tiga hal yang bisa langsung dijadikan standar eksekusi. Pertama, setiap paket pekerjaan koridor wajib menyertakan neraca limpasan sebelum dan sesudah intervensi. Kedua, indikator keberhasilan tidak boleh berhenti pada kecepatan lalu lintas, tetapi harus memasukkan indikator keselamatan hidrologi saat hujan ekstrem. Ketiga, operasi dan pemeliharaan pascaproyek harus dipastikan, karena drainase yang tidak terpelihara akan menghapus manfaat konstruksi dalam waktu singkat.
Padang sedang punya momentum untuk membuktikan bahwa proyek mobilitas bisa berjalan searah dengan agenda pengurangan risiko bencana. Jika integrasi ini berhasil, Kurao Pagang-Maransi bisa jadi contoh bagaimana kota pesisir-rawan-bencana membangun infrastruktur yang bukan hanya lebih nyaman dipakai, tetapi juga lebih aman untuk ditinggali.
Referensi
- Pemko Padang, “Perbaikan Jalan dan Drainase Kurao Pagang Sampai Maransi Ditargetkan Tuntas 2026” (10 Jul 2025).
- Pemko Padang, “Kerugian Infrastruktur Akibat Bencana di Kota Padang Mencapai Rp264,3 M” (8 Des 2025).
- JDIH Kota Padang, Keputusan Wali Kota No. 89.A/2012 tentang penetapan lokasi normalisasi Batang Maransi-Batang Luruih.